Rambay.id – Dalam dunia perbankan, status keaktifan sebuah akun merupakan hal penting yang sering kali luput dari perhatian nasabah. Banyak pemilik rekening yang membiarkan akun bank tanpa transaksi selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa menyadari konsekuensi yang mengikuti.
Kondisi ketidakaktifan ini dikenal dengan istilah rekening dormant atau rekening pasif. Memahami status ini sangat penting bagi setiap nasabah untuk menjaga keamanan dana serta menghindari biaya administrasi yang tidak perlu.
Apa Itu Rekening Dormant?
Rekening dormant adalah status rekening simpanan nasabah, baik berupa tabungan maupun giro, yang tidak menunjukkan adanya aktivitas transaksi debit maupun kredit (selain biaya admin dan bunga).
Selama periode waktu tertentu yang ditetapkan oleh bank. Secara umum, bank di Indonesia menetapkan batas waktu enam bulan berturut-turut tanpa aktivitas sebagai pemicu perubahan status dari aktif menjadi pasif atau dormant.
Perubahan status ini dilakukan oleh sistem perbankan secara otomatis sebagai langkah keamanan. Bank menganggap rekening yang tidak tersentuh dalam waktu lama memiliki risiko penyalahgunaan yang lebih tinggi.
Baik oleh pihak internal maupun eksternal. Oleh karena itu, sistem memblokir akses transaksi keluar untuk melindungi dana nasabah sampai pemilik yang sah melakukan verifikasi ulang.
Penting untuk dipahami bahwa meskipun berstatus pasif, rekening tersebut belum tentu hangus atau hilang, selama saldo di dalamnya masih mencukupi untuk membayar biaya administrasi bulanan dan biaya penalti rekening pasif.
Namun, jika saldo mencapai titik nol (0), sistem bank biasanya akan menutup rekening tersebut secara otomatis.
Ciri-Ciri Rekening yang Berstatus Dormant
Mengetahui apakah sebuah rekening telah masuk ke dalam kategori dormant sering kali baru disadari ketika nasabah mencoba menggunakannya kembali. Berikut adalah tanda-tanda spesifik yang menunjukkan sebuah rekening telah berubah status menjadi pasif:
1. Transaksi Finansial Ditolak
Ciri paling umum adalah kegagalan saat melakukan transaksi finansial keluar. Saat nasabah mencoba melakukan penarikan tunai di ATM, transfer via mobile banking, atau pembayaran belanja menggunakan kartu debit, transaksi akan gagal.
Pesan error yang muncul biasanya menyatakan bahwa rekening tidak valid, transaksi tidak dapat diproses, atau instruksi untuk menghubungi bank penerbit.
2. Tidak Dapat Menerima Transfer Masuk
Pada beberapa kebijakan bank yang lebih ketat, rekening dormant tidak hanya dibekukan untuk transaksi keluar, tetapi juga menolak dana masuk.
Pengirim dana dari rekening lain akan mendapatkan notifikasi bahwa nomor rekening tujuan tidak aktif atau transaksi gagal, sehingga dana akan kembali ke rekening pengirim (retur).
3. Perubahan Status di Internet/Mobile Banking
Bagi nasabah yang menggunakan layanan perbankan digital, status rekening biasanya terlihat jelas pada dashboard aplikasi. Beberapa aplikasi memberikan label “Dormant”, “Pasif”.
Mengubah warna tampilan rekening menjadi abu-abu. Dalam kasus tertentu, rekening tersebut bahkan hilang dari daftar akun yang terhubung di aplikasi mobile banking.
4. Munculnya Biaya Penalti Khusus
Rekening pasif biasanya dikenakan biaya tambahan di luar biaya administrasi bulanan standar. Biaya ini disebut biaya denda rekening dormant.
Jika nasabah melihat mutasi rekening (melalui pencetakan buku tabungan) dan menemukan potongan biaya yang tidak biasa secara rutin setiap bulan, kemungkinan besar rekening tersebut telah berstatus pasif.
Penyebab Utama Rekening Menjadi Pasif
Sebuah rekening tidak berubah menjadi dormant tanpa alasan. Ada pola perilaku nasabah atau kondisi tertentu yang memicu sistem perbankan mengubah status tersebut. Berikut adalah penyebab utamanya:
Tidak Adanya Aktivitas Transaksi Nasabah
Penyebab paling mendasar adalah absennya transaksi yang diinisiasi oleh nasabah. Transaksi yang dihitung meliputi penyetoran, penarikan, pemindahbukuan, atau pembayaran tagihan.
Perlu dicatat bahwa transaksi otomatis yang dilakukan oleh sistem bank, seperti pengkreditan bunga atau pendebetan biaya admin dan pajak, tidak dihitung sebagai aktivitas nasabah. Jadi, meskipun saldo berubah karena bunga dan biaya admin, jika nasabah tidak melakukan apa pun, rekening tetap akan menjadi dormant.
Kepemilikan Rekening Ganda
Banyak nasabah memiliki lebih dari satu rekening di bank yang sama atau berbeda. Sering kali, satu rekening digunakan sebagai rekening utama (payroll atau operasional harian).
Sementara rekening lainnya hanya digunakan sesekali atau bahkan dilupakan. Rekening sekunder inilah yang paling rentan terkena status dormant karena jarang dipantau.
Lupa PIN atau Kehilangan Kartu ATM
Kendala teknis seperti lupa Personal Identification Number (PIN) atau hilangnya kartu ATM sering membuat nasabah malas mengurusnya ke bank, terutama jika saldo di dalamnya tidak terlalu besar. Penundaan pengurusan ini berlarut-larut hingga melewati batas waktu enam bulan, yang akhirnya membuat rekening terkunci secara sistem.
Perubahan Domisili Nasabah
Kepindahan nasabah ke luar kota atau luar negeri sering kali menyebabkan rekening lama ditinggalkan, terutama jika bank tersebut tidak memiliki banyak cabang atau ATM di lokasi baru. Nasabah cenderung membuka rekening baru di lokasi terkini dan membiarkan rekening lama tanpa aktivitas.
Dampak dan Kerugian Memiliki Rekening Dormant
Membiarkan rekening dalam status dormant membawa beberapa kerugian bagi nasabah. Sangat disarankan untuk segera menutup rekening jika memang tidak lagi digunakan, atau mengaktifkannya kembali jika masih dibutuhkan.
Penggerusan Saldo oleh Biaya Tambahan
Kerugian finansial adalah dampak yang paling terasa. Selain biaya administrasi reguler, bank membebankan biaya penalti untuk rekening dormant. Besaran biaya ini bervariasi antar bank.
Mulai dari ribuan hingga puluhan ribu rupiah per bulan. Jika saldo di dalam rekening terbatas, potongan ganda ini akan menghabiskan sisa dana dengan cepat hingga mencapai saldo nol.
Penutupan Rekening Secara Otomatis
Ketika saldo rekening telah habis terpotong biaya administrasi dan denda dormant, sistem bank akan melakukan penutupan rekening secara permanen (closing account).
Jika ini terjadi, nasabah tidak dapat lagi mengaktifkan nomor rekening yang sama. Apabila ingin menjadi nasabah bank tersebut kembali, nasabah harus melalui prosedur pembukaan rekening baru dari awal.
Kendala dalam Urusan Administratif Mendadak
Terkadang, nomor rekening lama masih terdaftar di berbagai layanan administratif, seperti database kantor untuk pencairan bonus tahunan, pengembalian dana asuransi, atau bantuan pemerintah.
Jika dana dikirimkan ke rekening yang sudah dormant atau tertutup, proses pencairan dana akan terhambat dan membutuhkan waktu lama untuk pengurusan retur dan pengalihan ke rekening baru.
Cara Mengaktifkan Kembali Rekening Dormant
Jika nasabah masih membutuhkan rekening yang sudah berstatus pasif, pengaktifan kembali (reaktivasi) bisa dilakukan. Prosedur ini bertujuan untuk memverifikasi bahwa pemilik rekening adalah sah dan masih hidup. Berikut adalah langkah-langkah umum yang berlaku di sebagian besar perbankan Indonesia:
1. Melakukan Transaksi Debit di Counter Teller
Cara paling umum dan pasti berhasil adalah dengan mendatangi kantor cabang bank terdekat. Nasabah diminta untuk melakukan setoran tunai atau penarikan tunai melalui teller. Transaksi ini akan memicu sistem untuk membaca adanya aktivitas nasabah secara fisik.
- Dokumen yang Diperlukan: Bawa KTP asli, buku tabungan, dan kartu debit (ATM).
- Proses: Sampaikan kepada petugas Customer Service atau Teller bahwa status rekening dormant dan ingin diaktifkan kembali. Petugas akan memandu untuk melakukan verifikasi data (KYC) dan transaksi minimal.
2. Aktivasi Melalui Kanal Digital (Khusus Bank Tertentu)
Seiring kemajuan teknologi, beberapa bank digital atau bank konvensional dengan layanan digital canggih memungkinkan nasabah mengaktifkan rekening dormant melalui aplikasi smartphone.
Biasanya proses ini melibatkan verifikasi wajah (face recognition) atau input PIN dan password untuk mengonfirmasi identitas. Namun, fitur ini tidak tersedia di semua bank dan tergantung pada tingkat kepasifan rekening.
3. Menghubungi Call Center
Untuk beberapa kasus ringan atau jenis rekening tertentu, aktivasi dapat dibantu melalui layanan call center resmi bank. Nasabah akan melewati proses verifikasi ketat melalui telepon.
Meski demikian, metode ini sering kali tetap mengharuskan nasabah melakukan transaksi finansial (transfer masuk atau keluar) dalam kurun waktu tertentu setelah laporan dibuat agar status benar-benar pulih.
4. Membayar Biaya Reaktivasi
Beberapa bank mungkin membebankan biaya administrasi untuk proses pengaktifan kembali rekening dormant. Pastikan saldo di dalam rekening mencukupi untuk biaya materai (jika ada pembaruan data) atau biaya setoran awal minimum yang dipersyaratkan oleh bank.
Strategi Mencegah Rekening Menjadi Dormant
Pencegahan selalu lebih baik daripada harus meluangkan waktu mengurus ke bank. Agar rekening tetap aktif dan terhindar dari biaya penalti, nasabah dapat menerapkan langkah-langkah sederhana berikut:
- Lakukan Satu Transaksi Minimal: Sisihkan waktu setidaknya sekali dalam tiga bulan untuk melakukan satu transaksi, entah itu membeli pulsa nominal kecil, transfer dana, atau tarik tunai.
- Gunakan Fitur Autodebet: Menghubungkan rekening dengan tagihan rutin seperti listrik, air, atau iuran BPJS akan memastikan adanya aktivitas debit setiap bulan secara otomatis.
- Manfaatkan Sebagai Rekening Menabung Rutin: Gunakan fitur tabungan berjangka yang mendebet dana dari rekening utama ke rekening sekunder, sehingga kedua rekening tetap mencatat aktivitas.
- Tutup Rekening Tidak Terpakai: Jika memang memiliki terlalu banyak rekening, evaluasi mana yang benar-benar dibutuhkan. Menutup rekening yang tidak produktif lebih baik daripada membiarkannya tergerus biaya hingga mati dengan sendirinya.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Rekening Dormant)
Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga rekening menjadi dormant?
Mayoritas bank di Indonesia menetapkan batas waktu 6 bulan berturut-turut tanpa aktivitas transaksi dari nasabah. Namun, beberapa jenis rekening investasi atau tabungan berjangka mungkin memiliki ketentuan waktu yang berbeda sesuai kebijakan masing-masing bank.
Apakah saldo di dalam rekening dormant akan hilang?
Saldo tidak hilang seketika, tetapi akan terus berkurang karena potongan biaya administrasi bulanan dan denda dormant. Jika saldo tidak mencukupi untuk membayar biaya tersebut hingga mencapai nol, barulah rekening akan ditutup otomatis oleh sistem bank.
Bisakah rekening dormant menerima transfer uang dari orang lain?
Sebagian besar sistem perbankan akan menolak transfer masuk ke rekening yang berstatus dormant demi keamanan. Pengirim dana biasanya akan menerima notifikasi gagal transfer, dan dana akan dikembalikan ke rekening pengirim (retur).
Bagaimana cara mengaktifkan kembali rekening dormant tanpa ke bank?
Hanya sedikit bank yang menyediakan fitur reaktivasi via aplikasi mobile banking atau call center, itu pun tergantung tingkat kepasifan rekening. Umumnya, nasabah tetap diwajibkan datang ke kantor cabang terdekat membawa KTP dan buku tabungan untuk verifikasi identitas (KYC).
Berapa biaya untuk mengaktifkan rekening yang sudah mati?
Biaya reaktivasi bervariasi tergantung kebijakan bank, mulai dari gratis hingga dikenakan biaya administrasi atau materai. Namun, nasabah biasanya diwajibkan melakukan setoran tunai minimal (misalnya Rp50.000 atau Rp100.000) agar rekening kembali aktif.
Kesimpulan
Rekening dormant merupakan mekanisme perbankan yang dirancang untuk keamanan, namun dapat merugikan nasabah jika tidak dikelola dengan baik. Status ini ditandai dengan ketidakmampuan.
Melakukan transaksi dan adanya pembebanan biaya penalti yang menggerus saldo. Penyebab utamanya adalah kelalaian nasabah dalam melakukan transaksi selama periode tertentu, biasanya enam bulan.
Pemahaman mengenai status ini membantu nasabah untuk lebih bijak dalam mengelola portofolio keuangannya. Jika sebuah rekening masih diperlukan, segera lakukan reaktivasi melalui kantor cabang dengan membawa identitas diri.
Sebaliknya, jika rekening tersebut tidak lagi relevan dengan kebutuhan finansial, penutupan secara resmi adalah langkah paling tepat untuk menghindari kerugian finansial akibat.
Biaya administrasi yang terus berjalan. Menjaga rekening tetap aktif bukan hanya soal menyimpan uang, tetapi juga menjaga aksesibilitas aset finansial sewaktu-waktu dibutuhkan.