Rambay.id – Mengembangkan usaha tentu butuh modal tambahan, dan Kredit Usaha Rakyat sering menjadi pilihan utama para pelaku UMKM. Bunga yang rendah serta proses yang tergolong mudah membuat program ini sangat diminati.
Sayangnya, tidak sedikit pelaku usaha yang harus menelan kekecewaan. Sudah lelah mengurus dokumen ke sana kemari, menunggu jadwal survei, tetapi pada akhirnya mantri membawa kabar buruk.
Kondisi pengajuan KUR ditolak bank pasti membuat frustrasi. Padahal, kamu mungkin merasa sudah melengkapi semua berkas yang diminta. Lalu, kenapa pihak analis kredit tetap tidak memberikan persetujuan?
Ternyata, ada banyak kriteria penilaian berlapis yang dilakukan oleh pihak perbankan. Mari bedah satu per satu penyebab utama yang sering luput dari perhatian agar usaha kamu bisa segera mendapat suntikan dana segar.
10 Alasan Kenapa Pengajuan KUR Ditolak Bank
Banyak nasabah yang hanya berfokus pada kelengkapan KTP dan Surat Keterangan Usaha (SKU). Padahal, bank melihat lebih dalam dari sekadar dokumen kertas. Berikut adalah sepuluh penyebab utamanya:
1. Riwayat Kredit Bermasalah di SLIK OJK (BI Checking)
Ini adalah saringan pertama dan paling mematikan. Pihak bank akan langsung mengecek riwayat cicilan kamu melalui SLIK OJK.
Jika kamu punya riwayat sering telat bayar cicilan motor, nunggak pinjaman online (pinjol), atau punya tunggakan paylater, otomatis sistem akan menolak. Bank hanya mencari calon debitur dengan rekam jejak pembayaran yang bersih.
2. Usaha Belum Berjalan Selama Enam Bulan
Aturan baku dari pemerintah mengharuskan usaha sudah berjalan minimal enam bulan. Aturan ini tidak bisa diganggu gugat.
Jika kamu baru membuka toko selama dua bulan dan langsung mencoba meminjam modal, sudah pasti pengajuan KUR ditolak bank. Waktu enam bulan dianggap sebagai standar minimal untuk melihat apakah sebuah bisnis bisa bertahan atau tidak.
3. Memiliki Pinjaman Komersial Aktif
Program subsidi pemerintah ini ditujukan untuk mereka yang belum tersentuh kredit modal kerja komersial. Jika nama kamu masih tercatat memiliki pinjaman modal kerja di bank atau lembaga keuangan lain, sistem SIKP (Sistem Informasi Kredit Program) akan memblokir pencairan.
Namun, tenang saja. Jika pinjaman yang kamu miliki bersifat konsumtif seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), kamu tetap bisa mengajukan selama kolektibilitasnya lancar.
4. Kapasitas Membayar (Repayment Capacity) Minim
Bank akan menghitung pendapatan bersih usaha kamu setiap bulan. Jika keuntungan bersih per bulan ternyata lebih kecil atau terlalu mepet dengan perkiraan cicilan bulanan, bank tidak akan berani mengambil risiko.
Misalnya, laba bersih hanya Rp1 juta per bulan, tetapi cicilan pinjaman mencapai Rp900 ribu. Kondisi kas yang terlalu ketat ini menjadi alasan kuat kenapa pengajuan KUR ditolak bank.
5. Dokumen Legalitas dan Identitas Tidak Sinkron
Kesalahan sepele sering berdampak fatal. Contohnya, nama di KTP berbeda ejaan dengan nama di Kartu Keluarga atau Surat Keterangan Usaha.
Atau, status pernikahan di KTP belum diubah padahal kenyataannya sudah menikah. Perbedaan data sekecil apa pun akan membuat proses verifikasi tersendat dan berujung pada penolakan.
6. Usaha Masuk Kategori Berisiko Tinggi
Analis kredit sangat paham tentang kondisi pasar. Ada beberapa jenis usaha yang mungkin dinilai sedang tidak stabil, terlalu bergantung pada musim tertentu, atau tidak memiliki target pasar yang jelas.
Jika mantri menilai usaha yang dijalankan sangat rentan bangkrut dalam waktu dekat, mereka akan memilih untuk menahan persetujuan kredit demi menjaga rasio kredit macet (NPL) bank.
7. Hasil Survei Lapangan Tidak Sesuai Berkas
Mantri bank dilatih untuk memiliki insting yang tajam. Saat melakukan survei lapangan, mereka akan melihat langsung kondisi toko, stok barang, dan perputaran pembeli.
Jika di atas kertas kamu melaporkan omzet puluhan juta, tapi saat disurvei stok barang kosong dan toko sepi, mantri akan curiga. Kejujuran adalah kunci utama dalam tahap ini.
8. Perputaran Uang di Rekening Tidak Terlihat
Bank sangat menyukai jejak transaksi digital. Jika selama ini kamu selalu menggunakan uang tunai dan tidak pernah menyetor hasil jualan ke rekening tabungan, bank akan kesulitan melacak arus kas nyata.
Meskipun usaha kamu ramai, ketiadaan mutasi rekening yang sehat bisa membuat analis ragu dengan stabilitas pendapatan harian atau bulanan bisnis tersebut.
9. Lokasi Usaha Tidak Jelas atau Berpindah-pindah
Kepastian tempat usaha adalah jaminan bagi pihak pemberi pinjaman. Jika kamu menyewa tempat dengan masa sewa yang hampir habis, atau berjualan secara nomaden tanpa lokasi tetap, risiko uang dibawa kabur dinilai lebih tinggi.
Usaha yang beroperasi di rumah sendiri atau di ruko dengan kontrak sewa jangka panjang akan lebih diprioritaskan untuk mendapat persetujuan.
10. Terlalu Ambisius Meminta Plafon Besar
Banyak pengusaha pemula yang langsung tergoda meminjam Rp100 juta tanpa memiliki riwayat pinjaman sebelumnya. Meminta dana yang terlalu besar tanpa bukti kemampuan mengelola modal sering kali berakibat pada penolakan.
Bank lebih suka memberikan plafon secara bertahap. Mulai dari puluhan juta, dan jika pembayarannya bagus, plafon akan dinaikkan pada periode berikutnya (suplesi).
Langkah Tepat Jika Mengalami Penolakan
Jika sudah terlanjur mendapat surat penolakan atau dikabari oleh mantri bahwa dana tidak bisa cair, jangan langsung berkecil hati. Lakukan perbaikan secara strategis.
Pertama, tanyakan langsung kepada petugas bank apa alasan spesifik penolakannya. Jika masalahnya ada pada riwayat kredit (SLIK OJK), segera lunasi sisa tunggakan di aplikasi paylater atau pinjol, lalu tunggu beberapa bulan hingga skor kredit kembali hijau.
Kedua, mulailah merapikan pembukuan. Catat semua pemasukan dan pengeluaran harian, dan biasakan menyetor uang hasil dagang ke bank agar rekening koran terlihat aktif dan sehat.
Terakhir, cobalah turunkan ekspektasi nominal pinjaman. Mengajukan KUR Super Mikro (plafon di bawah Rp10 juta) biasanya memiliki persentase lolos yang jauh lebih tinggi bagi calon nasabah baru.
Kesimpulan
Faktor penentu disetujuinya sebuah kredit tidak hanya berpusat pada selembar Surat Keterangan Usaha. Rekam jejak keuangan pribadi, kelancaran kas harian, kejujuran data, hingga penilaian risiko bisnis di lapangan sangat memengaruhi keputusan pihak perbankan.
Mendapati pengajuan KUR ditolak bank memang bukan akhir dari perjalanan bisnismu. Dengan mengetahui celah dan penyebab kegagalan di atas, kamu bisa segera melakukan evaluasi, memperbaiki kekurangan, dan kembali mengajukan modal dengan tingkat persetujuan yang jauh lebih pasti.
FAQ Seputar Pengajuan KUR Ditolak Bank
1. Berapa lama saya bisa mengajukan KUR lagi setelah ditolak?
Tidak ada aturan waktu yang kaku. Jika alasan penolakan adalah berkas yang kurang, kamu bisa langsung mengajukan ulang setelah berkas lengkap. Namun, jika ditolak karena riwayat SLIK OJK yang buruk, butuh waktu sekitar 3 hingga 6 bulan setelah pelunasan tunggakan agar skor kredit pulih.
2. Apakah tagihan Paylater yang menunggak Rp50 ribu bisa membatalkan KUR?
Iya, sangat bisa. Nominal kecil sekalipun jika statusnya menunggak dan tercatat di SLIK OJK sebagai kredit macet (kolektibilitas 3, 4, atau 5), akan langsung menggugurkan proses pencairan di bank mana pun.
3. Bolehkah mencoba mengajukan di bank B jika bank A menolak?
Boleh saja. Kebijakan analis setiap bank terkadang berbeda. Namun, jika akar masalahnya ada pada SLIK OJK atau data SIKP, mengajukan ke puluhan bank berbeda pun hasilnya akan tetap sama karena sistem yang digunakan terintegrasi secara nasional.
4. Apakah jaminan (agunan) menjamin KUR pasti cair?
Tidak selalu. Untuk plafon di bawah Rp100 juta, program ini secara aturan pemerintah tidak mewajibkan agunan tambahan. Membawa sertifikat tanah pun tidak akan berguna jika usaha belum berjalan enam bulan atau kapasitas bayar harian kamu minus.