Rambay.id – Mendapatkan penolakan saat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tentu menjadi pengalaman yang mengecewakan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kebingungan sering kali muncul.
Terutama ketika calon debitur merasa yakin bahwa riwayat kredit atau BI Checking (sekarang disebut SLIK OJK) dalam kondisi bersih tanpa tunggakan. Banyak yang beranggapan bahwa status “Kolektibilitas 1”.
Kredit lancar adalah jaminan mutlak persetujuan pinjaman. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan bahwa riwayat kredit bersih hanyalah satu dari sekian banyak syarat kelayakan.
Pihak bank, khususnya BRI sebagai penyalur KUR terbesar, memiliki sistem penilaian risiko yang kompleks dan berlapis. SLIK OJK hanyalah gerbang pertama. Setelah lolos dari pemeriksaan riwayat kredit, masih ada serangkaian validasi ketat yang melibatkan kemampuan bayar, validitas data usaha.
Hingga regulasi pemerintah terbaru terkait penerima subsidi bunga. Memahami alasan di balik penolakan tersebut menjadi kunci utama untuk memperbaiki profil kredit sebelum mengajukan permohonan ulang.
Ulasan berikut akan membedah secara mendalam berbagai faktor tersembunyi penyebab kegagalan pengajuan kredit meski data SLIK OJK aman, serta langkah strategis yang dapat diambil oleh pelaku usaha untuk mengubah keputusan penolakan menjadi persetujuan pada kesempatan berikutnya.
Mengapa Pengajuan Ditolak Meski Riwayat Kredit Bersih?
Persepsi umum bahwa “BI Checking Aman = Kredit Cair” adalah pemahaman yang kurang tepat. Bank BRI memegang prinsip kehati-hatian (prudential banking) yang sangat ketat. Berikut adalah analisis mendalam mengenai variabel-variabel penentu selain riwayat kredit yang sering menjadi batu sandungan bagi para pemohon.
1. Kapasitas Pembayaran (Repayment Capacity) Tidak Memadai
Faktor paling dominan dalam keputusan kredit adalah Repayment Capacity (RPC) atau kemampuan bayar. Mantri atau analis kredit BRI akan menghitung secara rinci arus kas usaha. Rumus sederhananya adalah pendapatan bersih (omzet dikurangi biaya operasional dan biaya rumah tangga) harus lebih besar dari jumlah angsuran bulanan.
Seringkali, pemohon merasa memiliki omzet besar, namun lupa memperhitungkan biaya operasional yang tinggi atau pengeluaran rumah tangga yang tidak tercatat. Jika sisa uang (disposable income) dinilai terlalu minim atau “ngepas” dengan angsuran.
Bank akan menganggap risiko gagal bayar terlalu tinggi. Bank biasanya mensyaratkan adanya buffer atau cadangan dana sekitar 30% hingga 40% dari sisa penghasilan bersih, bukan digunakan seluruhnya untuk angsuran.
2. Terganjal Sistem Informasi Kredit Program (SIKP)
Ini adalah penyebab teknis yang sering tidak disadari oleh pemohon. SIKP adalah sistem database milik Kementerian Keuangan yang memantau penyaluran subsidi bunga KUR. Meskipun SLIK OJK bersih, nama pemohon bisa saja tertolak oleh sistem SIKP.
Alasan penolakan oleh SIKP biasanya karena pemohon tercatat masih memiliki pinjaman komersial (non-KUR) untuk modal kerja atau investasi di bank lain atau lembaga pembiayaan (leasing).
Sesuai aturan Permenko Perekonomian, penerima KUR tidak boleh sedang menikmati kredit komersial perbankan, kecuali kredit konsumtif seperti KPR (Rumah), KKB (Kendaraan), atau Kartu Kredit. Jika terdeteksi ada pinjaman modal kerja di tempat lain, SIKP akan otomatis menolak, dan pihak BRI tidak bisa memproses lebih lanjut.
3. Usaha Belum Memenuhi Kriteria Kelayakan (Feasibility)
Syarat mutlak pengajuan KUR adalah usaha produktif yang layak dan telah berjalan minimal 6 bulan. Banyak kasus penolakan terjadi karena saat survei lapangan (on the spot), mantri menemukan bahwa usaha tersebut belum stabil, fiktif, atau baru berjalan kurang dari periode yang disyaratkan.
Selain durasi, jenis usaha juga berpengaruh. Beberapa sektor usaha mungkin masuk dalam kategori high risk atau daftar negatif di kebijakan internal kantor cabang tertentu karena.
Tingkat kemacetan kredit yang tinggi di sektor tersebut pada wilayah itu. Penilaian subjektif mantri terhadap karakter pengelola dan prospek keberlanjutan usaha di masa depan juga memegang peranan vital dalam skor kelayakan.
Faktor Administratif dan Verifikasi Lapangan
Selain faktor keuangan, detail administratif sering menjadi penyebab kegagalan yang tidak terduga. Ketidaktelitian dalam dokumen atau ketidaksesuaian data di lapangan dapat membatalkan proses pengajuan seketika.
Ketidaksesuaian Domisili dan Wilayah Kerja
Bank BRI memiliki unit-unit kerja dengan wilayah operasional (wilker) yang spesifik. Pengajuan KUR harus dilakukan di unit BRI yang wilayah kerjanya mencakup lokasi usaha atau domisili pemohon.
Mengajukan pinjaman di unit yang berbeda kecamatan atau terlalu jauh dari lokasi usaha sering kali berujung penolakan. Hal ini berkaitan dengan efisiensi pemantauan (monitoring) yang akan dilakukan oleh mantri di kemudian hari. Jika lokasi terlalu jauh, risiko loss of control menjadi alasan kuat bagi bank untuk menolak.
Masalah pada Dokumen Kependudukan
Sistem perbankan saat ini terintegrasi dengan Dukcapil. Perbedaan satu huruf saja pada nama di KTP, Kartu Keluarga, dan Surat Keterangan Usaha (SKU) bisa menghambat proses sistem. Selain itu, status perkawinan di KTP harus jelas.
Bagi pemohon yang sudah menikah, persetujuan pasangan adalah wajib. Jika pasangan (suami/istri) ternyata memiliki riwayat kredit macet (meskipun pemohon bersih), hal ini tetap akan mempengaruhi keputusan karena harta dan utang dalam pernikahan dianggap sebagai harta bersama (gonogini), kecuali ada perjanjian pisah harta.
Solusi Mengatasi Penolakan KUR BRI
Menghadapi penolakan bukan berarti akhir dari kesempatan mendapatkan modal. Terdapat langkah-langkah konstruktif yang dapat diterapkan untuk memperbaiki profil kredit dan mengajukan kembali permohonan dengan peluang persetujuan yang lebih tinggi.
1. Evaluasi dan Perbaiki Pencatatan Keuangan
Langkah pertama adalah memperbaiki pembukuan. Buatlah catatan keuangan yang rapi, memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Simpan semua nota belanja dan bukti penjualan.
Saat mantri melakukan survei ulang, adanya pembukuan yang jelas dan transparan akan meningkatkan kepercayaan bank terhadap profesionalisme pengelolaan usaha dan validitas data omzet yang diklaim. Ini membuktikan bahwa kapasitas bayar yang dihitung adalah data riil, bukan asumsi.
2. Lunasi atau Tutup Pinjaman Komersial Lain
Jika penolakan disebabkan oleh aturan SIKP terkait kepemilikan kredit komersial, solusinya adalah melunasi pinjaman tersebut. Pastikan status kredit di sistem perbankan sudah benar-benar lunas dan minta Surat Keterangan Lunas.
Setelah itu, pastikan data di SIKP sudah diperbarui (biasanya membutuhkan waktu) sebelum mencoba mengajukan KUR kembali. Prioritaskan untuk tidak mengambil utang produktif lain saat berencana mengajukan KUR.
3. Mengajukan Pasangan sebagai Pemohon Utama
Apabila kendala berasal dari riwayat kredit salah satu pasangan yang kurang baik di masa lalu namun sudah lunas (namun masih meninggalkan catatan sejarah), strategi yang bisa dicoba adalah mengganti pemohon utama.
Jika suami yang sebelumnya mengajukan dan ditolak, cobalah ajukan menggunakan nama istri, dengan catatan usaha tersebut juga dikelola atau dipahami oleh istri.
Namun, strategi ini hanya berhasil jika pasangan yang “bersih” memiliki kapasitas hukum dan usaha yang valid, serta tunggakan lama pasangan sudah benar-benar selesai secara administratif.
4. Membangun Rekam Jejak di Rekening (Mutasi Rekening)
Bank sangat menyukai data yang tercatat. Usahakan seluruh transaksi hasil usaha disetorkan ke rekening BRI secara rutin, meskipun nantinya ditarik kembali untuk belanja modal.
Mutasi kredit (uang masuk) yang aktif dan konsisten di buku tabungan menjadi bukti valid besaran omzet usaha. Rekening yang aktif jauh lebih meyakinkan bagi analis kredit dibandingkan pengakuan lisan mengenai pendapatan harian.
Tips Agar Pengajuan Ulang Disetujui
Waktu pengajuan ulang juga perlu diperhatikan. Jangan terburu-buru mengajukan kembali seminggu setelah penolakan tanpa adanya perubahan signifikan pada kondisi usaha atau dokumen. Berikan jeda waktu (misalnya 1-3 bulan) untuk memperbaiki kondisi yang menjadi penyebab penolakan.
Selama masa jeda tersebut, fokuslah pada peningkatan omzet dan perbaikan tampilan fisik tempat usaha. Tempat usaha yang terlihat sibuk, rapi, dan memiliki stok barang yang lengkap akan memberikan impresi positif saat survei. Selain itu, jalin komunikasi yang baik dengan petugas bank.
Tanyakan secara sopan alasan spesifik penolakan sebelumnya agar perbaikan yang dilakukan bisa tepat sasaran. Kejujuran mengenai kondisi usaha dan tujuan penggunaan dana akan menjadi nilai tambah dalam penilaian karakter debitur.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang KUR BRI Ditolak )
Apakah saya bisa mengajukan KUR BRI lagi setelah ditolak padahal SLIK OJK bersih?
Pengajuan ulang sangat dimungkinkan setelah pemohon memperbaiki penyebab penolakan. Disarankan untuk menunggu jeda waktu sekitar 3 hingga 6 bulan atau setelah kondisi keuangan dan administrasi usaha mengalami peningkatan yang signifikan.
Kenapa pengajuan KUR ditolak karena SIKP padahal tidak punya hutang bank?
Penolakan SIKP sering terjadi karena NIK pemohon masih terdaftar sebagai penerima kredit komersial aktif atau pernah menerima KUR sebelumnya yang belum terhapus datanya. Paylater atau pinjaman online yang masuk kategori kredit produktif di sistem pelaporan juga dapat memicu penolakan ini.
Apakah punya ShopeePayLater atau pinjaman online membuat KUR BRI ditolak?
Pinjaman online atau Paylater yang tercatat di SLIK OJK dengan status lancar umumnya tidak otomatis menggugurkan pengajuan, asalkan bersifat konsumtif. Namun, jika jumlah cicilannya besar dan mengurangi kemampuan bayar (Repayment Capacity) secara drastis, bank tetap akan menolak pengajuan tersebut.
Berapa lama waktu tunggu untuk pengajuan ulang KUR BRI setelah ditolak?
Tidak ada aturan baku mengenai durasi waktu tunggu, namun idealnya adalah minimal 3 bulan. Waktu ini diperlukan untuk menunjukkan adanya perubahan positif pada arus kas, mutasi rekening, atau kelengkapan dokumen yang sebelumnya kurang.
Apa yang harus dilakukan jika ditolak karena alasan domisili usaha?
Solusi terbaik adalah mengajukan permohonan ke unit kerja BRI (Unit atau Teras) yang wilayah operasionalnya mencakup lokasi usaha atau tempat tinggal pemohon. Memaksakan pengajuan di cabang yang berbeda wilayah administrasi hampir pasti akan berakhir dengan penolakan.
Kesimpulan
Penolakan KUR BRI meskipun BI Checking atau SLIK OJK dalam status aman bukanlah jalan buntu, melainkan indikasi adanya kriteria lain yang belum terpenuhi. Faktor-faktor seperti kapasitas bayar yang minim, kendala sistem SIKP akibat pinjaman lain.
Hingga masalah administratif wilayah kerja sering menjadi penyebab utama yang jarang disadari. Kunci keberhasilan pengajuan ulang terletak pada pemahaman mendalam terhadap kesehatan finansial usaha, kelengkapan administrasi, dan kepatuhan terhadap regulasi pemerintah.
Dengan melakukan evaluasi menyeluruh, memperbaiki pembukuan, dan memastikan tidak ada tumpang tindih pinjaman komersial, peluang pelaku usaha untuk mendapatkan suntikan modal subsidi akan terbuka lebar kembali. Persiapan yang matang jauh lebih penting daripada sekadar riwayat kredit yang bersih.