Home » Tutorial » Cara Mengubah File KML ke SHP Shapefile untuk Keperluan GIS dengan Mudah

Cara Mengubah File KML ke SHP Shapefile untuk Keperluan GIS dengan Mudah

Rambay.id – Dalam dunia Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographic Information System (GIS), interoperabilitas data adalah kunci utama. Seringkali, kita mendapatkan data spasial yang bersumber dari survei lapangan menggunakan Google Earth atau Google Maps.

Dalam format KML (Keyhole Markup Language) atau KMZ. Meskipun format ini sangat baik untuk visualisasi cepat dan berbagi lokasi secara umum, format ini memiliki keterbatasan ketika harus diolah lebih lanjut menggunakan perangkat lunak GIS profesional untuk analisis spasial yang kompleks.

Standar industri yang paling umum digunakan untuk pertukaran data vektor adalah ESRI Shapefile (SHP). Oleh karena itu, memahami cara mengubah file KML ke SHP adalah keterampilan fundamental yang wajib dimiliki oleh siapa saja yang berkecimpung dalam pemetaan digital.

Berikut ini kami akan memberikan informasi yang sangat lengkap mulai dari penggunaan perangkat lunak open-source gratis, perangkat lunak berbayar standar industri, hingga solusi instan berbasis web.

Memahami Perbedaan Mendasar: KML vs. SHP

Sebelum masuk ke teknis konversi, penting untuk memahami karakteristik kedua format file ini agar Anda dapat mengantisipasi hasil konversi data Anda.

Apa itu KML/KMZ?

KML (Keyhole Markup Language) adalah notasi XML untuk mengekspresikan anotasi geografis dan visualisasi dalam peta berbasis internet dua dimensi dan browser Earth tiga dimensi. KML dikembangkan untuk digunakan dengan Google Earth.

  • Kelebihan: Ukuran kecil, mudah dibagikan, mendukung elemen visual (warna, ikon), dan data ketinggian.
  • Kekurangan: Struktur atribut data seringkali tidak rapi (tergabung dalam deskripsi HTML), sulit untuk analisis topologi yang rumit.
  • KMZ: Adalah versi terkompresi (zipped) dari KML.

Apa itu Shapefile (SHP)?

Shapefile adalah format data vektor geospasial yang populer untuk perangkat lunak GIS. Dikembangkan oleh ESRI, format ini sebenarnya bukan satu file tunggal, melainkan kumpulan file yang bekerja bersamaan.

  • .shp: Menyimpan geometri fitur.
  • .shx: Menyimpan indeks geometri fitur.
  • .dbf: Menyimpan informasi atribut dalam format dBase.
  • .prj: Menyimpan informasi sistem koordinat dan proyeksi.

Metode 1: Menggunakan QGIS (Gratis & Paling Direkomendasikan)

QGIS adalah perangkat lunak GIS open-source yang paling populer dan kuat. Ini adalah metode terbaik karena gratis, menangani sistem koordinat dengan baik, dan memungkinkan Anda membersihkan data atribut sebelum konversi.

Langkah-langkah Konversi:

  1. Buka Aplikasi QGIS: Pastikan Anda telah menginstal versi terbaru (seperti QGIS 3.x).
  2. Impor File KML:
    • Klik menu Layer > Add Layer > Add Vector Layer.
    • Pada bagian Source, klik tombol titik tiga (…) dan cari file KML atau KMZ yang ingin Anda ubah.
    • Klik Add dan kemudian Close. Data KML Anda sekarang akan muncul di kanvas peta dan panel Layers.
  3. Ekspor ke Shapefile:
    • Klik kanan pada layer KML di panel Layers.
    • Pilih Export > Save Features As….
  4. Konfigurasi Penyimpanan:
    • Format: Pastikan Anda memilih ESRI Shapefile dari menu dropdown.
    • File name: Klik tombol titik tiga (…) untuk menentukan lokasi penyimpanan dan nama file output.
    • CRS (Coordinate Reference System): Ini sangat penting. KML secara default menggunakan WGS 84 (EPSG:4326). Jika Anda ingin tetap menggunakan koordinat geografis, biarkan saja. Namun, jika Anda ingin menghitung luas atau jarak meter, disarankan mengubahnya ke sistem proyeksi seperti UTM (Universal Transverse Mercator) yang sesuai dengan zona wilayah Anda.
  5. Pilih Fields (Opsional): Anda dapat memilih kolom atribut mana saja yang ingin disertakan atau dibuang.
  6. Eksekusi: Klik OK.
Baca Juga  Cara Daftar PayPal Terbaru 2026, Mudah dan Aktif Tanpa Kartu Kredit

QGIS akan memproses data dan layer baru (file SHP) akan otomatis ditambahkan ke peta Anda.

Metode 2: Menggunakan ArcGIS / ArcMap (Standar Industri)

Bagi pengguna yang bekerja di instansi pemerintah atau perusahaan besar, ArcGIS dari ESRI seringkali menjadi perangkat lunak utama.

Menggunakan “KML to Layer”:

  1. Buka ArcMap atau ArcGIS Pro.
  2. Buka ArcToolbox: Biasanya ikon kotak merah di toolbar standar.
  3. Navigasi ke Conversion Tools:
    • Buka Conversion Tools > From KML > KML to Layer.
  4. Isi Parameter:
    • Input KML File: Pilih file KML/KMZ Anda.
    • Output Location: Pilih folder penyimpanan.
    • Output Data Name: Beri nama untuk Geodatabase file yang akan dibuat (ArcGIS mengubah KML menjadi Feature Class dalam Geodatabase terlebih dahulu).
  5. Jalankan Tool: Klik OK.
  6. Ekspor ke SHP:
    • Hasil dari langkah di atas adalah Layer file atau Feature Class. Untuk menjadi .shp murni, klik kanan pada layer hasil konversi di Table of Contents.
    • Pilih Data > Export Data.
    • Tentukan lokasi penyimpanan dan pastikan tipe file adalah Shapefile.

Metode 3: Konverter Online (Cepat & Tanpa Instalasi)

Jika Anda tidak memiliki akses ke QGIS atau ArcGIS dan hanya perlu mengubah satu file kecil dengan cepat, alat berbasis web adalah solusinya. Namun, perhatikan privasi data Anda.

Platform Populer:

  1. MyGeodata Cloud: Sangat intuitif. Anda cukup mengunggah file KML, lalu memilih output SHP. Catatan: Versi gratis memiliki batasan jumlah file dan ukuran.
  2. AnyConv: Mendukung berbagai format file termasuk geospasial.
  3. GeoJson.io: Anda bisa memuat KML, lalu menyimpannya sebagai Shapefile (meskipun fitur utamanya adalah GeoJSON).

Langkah Umum:

  1. Kunjungi situs web penyedia layanan.
  2. Klik tombol Upload atau seret file KML Anda.
  3. Pilih format output SHP (ESRI Shapefile).
  4. Klik Convert.
  5. Unduh file hasil konversi (biasanya dalam bentuk ZIP yang berisi .shp, .shx, .dbf, dll).

Peringatan: Jangan gunakan metode online untuk data rahasia perusahaan, data sensitif negara, atau data privasi tinggi lainnya.

Tantangan dan Solusi dalam Konversi KML ke SHP

Proses mengubah file KML ke SHP tidak selalu berjalan mulus. Berikut adalah masalah umum yang sering dihadapi pengguna GIS dan cara mengatasinya.

Baca Juga  Cara Bayar GoPay Later Sebelum Jatuh Tempo, Jangan Sampe Telat

1. Masalah Atribut Data (Garbage Data)

KML dari Google Earth seringkali menyimpan seluruh informasi (seperti deskripsi pop-up, foto, dan link) dalam satu kolom atribut bernama Description dalam format HTML. Saat diubah ke SHP, kolom ini menjadi teks panjang yang berantakan.

  • Solusi: Gunakan QGIS. Setelah konversi, buka Field Calculator untuk memisahkan teks (parsing) atau gunakan plugin khusus jika datanya kompleks. Anda mungkin perlu merapikan tabel atribut secara manual.

2. Geometri Campuran (Mixed Geometry)

File KML bisa menampung titik (point), garis (line), dan area (polygon) dalam satu file yang sama. Shapefile hanya boleh memiliki satu jenis geometri per file.

  • Solusi: Saat mengimpor ke QGIS atau ArcGIS, sistem biasanya akan meminta Anda memilih tipe geometri mana yang akan diimpor, atau akan memecahnya menjadi beberapa layer (misal: kml_point, kml_line, kml_polygon). Anda harus menyimpannya sebagai file SHP yang terpisah.

3. Masalah Sistem Koordinat (Z Axis)

Beberapa KML memiliki nilai ketinggian (Z-value) yang terekam sebagai 0 atau menempel pada tanah (clamped to ground). Saat dikonversi ke SHP 2D, ini biasanya aman. Namun, jika Anda membutuhkan SHP 3D (misalnya untuk analisis kontur), pastikan settingan pada saat ekspor menyertakan dimensi Z.

Mengapa Konversi Ini Penting untuk Analisis Wilayah?

Mengubah format data bukan sekadar teknis penggantian ekstensi file, melainkan membuka potensi analisis data. Berikut adalah alasan mengapa profesional lebih memilih SHP dibandingkan KML untuk bekerja:

  1. Analisis Topologi: SHP memungkinkan pengecekan kesalahan topologi seperti gap (celah) antar persil tanah atau overlap (tumpang tindih) lahan yang tidak bisa dilakukan di Google Earth.
  2. Perhitungan Geometris Akurat: Dengan mengubah ke SHP dan memproyeksikannya ke sistem koordinat metrik (seperti UTM), kita bisa menghitung luas area (hektar/meter persegi) dan panjang jalan dengan presisi tinggi.
  3. Penggabungan Data (Overlay): SHP memungkinkan teknik overlay (tumpang susun) dengan data lain seperti peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), peta jenis tanah, atau data demografi untuk analisis kesesuaian lahan.
  4. Manajemen Atribut: Format DBF pada Shapefile memungkinkan pengelolaan database tabular yang lebih terstruktur (mirip Excel) dibandingkan struktur XML pada KML.

Tips Optimasi File SHP Setelah Konversi

Setelah Anda berhasil melakukan konversi, lakukan langkah-langkah berikut agar data Anda siap pakai dan profesional:

  • Definisikan Proyeksi (.prj): Pastikan file .prj terbentuk. Tanpa file ini, penerima data Anda tidak akan tahu di mana lokasi peta tersebut di permukaan bumi.
  • Bersihkan Tabel Atribut: Hapus kolom-kolom bawaan KML yang tidak perlu seperti visibility, tessellate, atau extrude untuk mengurangi ukuran file.
  • Cek Geometri: Lakukan Check Validity di QGIS untuk memastikan tidak ada geometri yang error (seperti self-intersection) yang sering terjadi pada poligon hasil digitasi manual di Google Earth.
Baca Juga  Cara Legalisir Ijazah untuk CPNS 2026, Syarat, Biaya, dan Tempat Resmi

Kesimpulan

Mengubah file KML ke SHP adalah jembatan penghubung antara data survei visual yang sederhana dengan analisis spasial yang kompleks. Meskipun ada berbagai cara untuk melakukan konversi.

Penggunaan perangkat lunak GIS khusus seperti QGIS adalah metode yang paling direkomendasikan karena fleksibilitasnya dalam menangani sistem koordinat dan integritas data.

Metode online bisa menjadi solusi cepat untuk kebutuhan mendesak, namun untuk pekerjaan profesional, penguasaan konversi menggunakan desktop GIS adalah mutlak. Dengan mengubah data ke dalam format Shapefile, Anda membuka pintu untuk analisis mendalam.

Mulai dari perhitungan luas area yang akurat, pemetaan tematik, hingga perencanaan tata ruang yang presisi. Pastikan Anda selalu memverifikasi hasil konversi, terutama pada bagian atribut dan proyeksi peta, untuk menjamin kualitas output pekerjaan Anda.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah saya bisa mengubah KML ke SHP menggunakan AutoCAD?

Ya, AutoCAD Map 3D dan Civil 3D memiliki fitur perintah MAPIMPORT yang memungkinkan Anda mengimpor file KML/KMZ dan mengonversinya menjadi objek CAD atau data GIS yang bisa diekspor kembali sebagai SHP.

2. Mengapa file SHP saya hasil konversi tidak muncul di peta?

Ini biasanya masalah sistem koordinat (CRS). Pastikan “On-the-fly CRS transformation” di software GIS Anda aktif. Atau, cek apakah file .prj ikut tersimpan dalam satu folder yang sama dengan file .shp.

3. Apakah file KMZ bisa langsung diubah ke SHP atau harus diekstrak dulu?

Sebagian besar software GIS modern (QGIS terbaru dan ArcGIS) bisa membaca KMZ secara langsung tanpa perlu mengekstraknya menjadi KML terlebih dahulu. Software tersebut akan membacanya sebagai arsip terkompresi.

4. Berapa batas ukuran file untuk konversi online?

Setiap penyedia berbeda. MyGeodata Cloud misalnya, membatasi ukuran dan jumlah konversi untuk pengguna gratis (biasanya sekitar 5MB atau 3 dataset per bulan). Untuk file besar (misal >100MB), sangat disarankan menggunakan QGIS.

5. Mengapa nama kolom di tabel atribut SHP saya terpotong?

Format DBF (database file) yang digunakan oleh Shapefile memiliki batasan lama, di mana nama kolom (field name) maksimal hanya 10 karakter. Jika atribut KML Anda memiliki nama panjang, otomatis akan terpotong saat menjadi SHP.

Leave a Comment