Rambay.id – Minyak goreng adalah salah satu kebutuhan pokok yang hampir selalu ada di dapur masyarakat Indonesia. Namun, setelah digunakan berkali-kali, minyak goreng berubah menjadi limbah yang dikenal.
Sebagai minyak jelantah (waste cooking oil). Selama ini, banyak masyarakat yang membuang minyak jelantah sembarangan—ke wastafel, selokan, atau tanah. Padahal, kebiasaan ini dapat merusak lingkungan, menyumbat saluran air, dan mencemari tanah.
Kabar baiknya, kini minyak jelantah memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pertamina, sebagai perusahaan energi nasional, secara aktif mendorong pengumpulan minyak jelantah untuk diolah menjadi bahan bakar nabati atau biodiesel.
Melalui berbagai program kemitraan dan aplikasi digital, masyarakat kini bisa menukar limbah minyak mereka menjadi uang tunai atau saldo digital.
Kami akan memberikan cara jual minyak jelantah ke Pertamina, mulai dari syarat kualitas, perkiraan harga, hingga alur penyerahannya.
Jika Anda ingin berpartisipasi dalam menjaga lingkungan sekaligus mendapatkan keuntungan finansial, panduan ini adalah bacaan wajib untuk Anda.
Mengapa Pertamina Membutuhkan Minyak Jelantah?
Sebelum masuk ke teknis cara menjual, penting untuk memahami mengapa Pertamina dan mitra-mitranya mau membeli limbah dapur ini. Pemahaman ini akan membantu Anda menyadari betapa pentingnya peran Anda dalam rantai pasok energi nasional.
1. Program Energi Baru Terbarukan (EBT)
Indonesia sedang gencar melakukan transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Salah satu wujudnya adalah program Biodiesel (B30, B35, hingga rencana B40).
Minyak jelantah mengandung asam lemak yang dapat diproses secara kimiawi (transesterifikasi) menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan baku utama biodiesel.
2. Mengurangi Pencemaran Lingkungan
Membuang minyak ke saluran air dapat menyebabkan pembekuan lemak yang menyumbat pipa (fatberg) dan membunuh biota sungai. Dengan membeli kembali minyak jelantah, Pertamina membantu mencegah kerusakan ekosistem air dan tanah.
3. Mencegah Penggunaan Ulang yang Berbahaya
Ada oknum nakal yang menjernihkan kembali minyak jelantah menggunakan bahan kimia berbahaya untuk dijual kembali sebagai “minyak curah” murah. Praktik ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena mengandung senyawa karsinogenik pemicu kanker.
Dengan menyalurkannya ke industri biodiesel, rantai distribusi minyak jelantah daur ulang untuk pangan bisa diputus.
Syarat dan Kriteria Minyak Jelantah yang Diterima
Tidak semua minyak bekas bisa diterima. Pertamina dan mitra pengumpulnya memiliki standar tertentu agar minyak tersebut layak diolah menjadi bahan bakar. Berikut adalah syarat-syarat yang harus Anda penuhi sebelum menjual:
1. Murni Minyak Nabati
Minyak yang diterima adalah minyak goreng bekas pakai yang berasal dari tumbuhan (minyak sawit, minyak kelapa, minyak jagung, dll). Hindari mencampurkan lemak hewani (seperti lemak sapi atau babi).
Secara berlebihan jika tidak sesuai dengan kriteria pengepul spesifik, meskipun umumnya minyak jelantah rumah tangga yang tercampur sedikit lemak sisa penggorengan masih bisa ditoleransi.
2. Bebas dari Air dan Ampas Makanan
Ini adalah syarat paling krusial. Minyak jelantah tidak boleh tercampur dengan air atau sisa bumbu dan remah makanan.
- Air: Kehadiran air dapat mengganggu proses kimia saat pembuatan biodiesel.
- Ampas: Sisa tepung atau gosong makanan harus disaring terlebih dahulu.
3. Tidak Tercampur Bahan Kimia Lain
Jangan pernah mencampur minyak jelantah dengan sabun, deterjen, oli bekas kendaraan, atau cairan pembersih lantai. Kontaminasi bahan kimia non-pangan akan membuat minyak jelantah ditolak karena dapat merusak mesin pengolahan.
4. Warna dan Bau
Meskipun namanya “jelantah”, minyak yang terlalu hitam pekat seperti aspal (biasanya akibat penggunaan berlebihan hingga puluhan kali) terkadang memiliki rendemen (hasil olahan) yang rendah.
Namun, umumnya pengumpul masih menerima asalkan tidak berbentuk gel atau padatan. Bau yang diterima adalah bau tengik khas minyak, bukan bau busuk sampah atau bau bahan kimia.
Perkiraan Harga Jual Minyak Jelantah Terbaru
Salah satu pertanyaan terbesar masyarakat adalah: Berapa harga minyak jelantah per liter?
Harga minyak jelantah bersifat fluktuatif, mengikuti harga Crude Palm Oil (CPO) dunia dan permintaan industri biodiesel. Selain itu, harga juga bergantung pada kepada siapa Anda menjualnya (pengepul tangan pertama, Bank Sampah, atau aplikasi mitra resmi).
Berikut adalah kisaran harga pasaran saat ini (Data perkiraan 2024-2025):
- Skala Rumah Tangga (Eceran): Rp 2.500 – Rp 5.000 per liter.
- Skala Pengepul Besar/Mitra Resmi: Rp 6.000 – Rp 8.500 per liter (tergantung kualitas dan volume).
- Sistem Penukaran: Beberapa program tidak memberikan uang tunai, melainkan ditukar dengan:
- Saldo E-Wallet (LinkAja, GoPay, OVO).
- Tabungan Emas (Pegadaian).
- Sembako (Minyak goreng baru, gula, beras).
Catatan: Harga di kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung) cenderung lebih tinggi dibandingkan di daerah pedesaan karena kemudahan akses logistik ke pabrik pengolahan.
Alur dan Cara Jual Minyak Jelantah ke Pertamina (Lengkap)
Pertamina tidak melayani pembelian minyak jelantah secara eceran langsung di setiap SPBU layaknya kita membeli bensin. Pertamina bekerja sama dengan mitra strategis, kelompok masyarakat, dan aplikasi digital untuk mengumpulkan pasokan ini.
Berikut adalah tiga metode utama atau alur yang bisa Anda tempuh:
Metode 1: Melalui Aplikasi TNB (Tukar Nabung) / Mitra Digital
Pertamina Patra Niaga sempat meluncurkan inisiatif digital dan bekerja sama dengan startup pengelola limbah. Salah satu yang populer adalah sistem jemput bola via aplikasi.
- Unduh Aplikasi: Cari aplikasi pengumpul minyak jelantah yang bermitra dengan industri biodiesel (contoh: BeliJelantah, UCO, atau aplikasi TNB jika tersedia di wilayah Anda).
- Registrasi Akun: Daftar menggunakan nomor HP dan alamat lengkap.
- Kumpulkan Minyak: Siapkan minyak jelantah yang sudah disaring dalam jerigen atau botol.
- Request Penjemputan (Pickup): Masukkan estimasi volume minyak (biasanya ada minimum, misal 5 liter). Kurir mitra akan datang ke rumah Anda.
- Penimbangan dan Pembayaran: Kurir akan mengecek kualitas dan menimbang minyak. Pembayaran akan masuk ke saldo aplikasi atau e-wallet yang terhubung.
Metode 2: Melalui Bank Sampah Binaan Pertamina
Pertamina memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR) yang membina ribuan Bank Sampah di seluruh Indonesia.
- Cari Lokasi Bank Sampah: Cari informasi Bank Sampah terdekat di kelurahan Anda yang merupakan binaan Pertamina atau BUMN.
- Daftar Jadi Nasabah: Bawa KTP dan daftarkan diri Anda sebagai nasabah bank sampah.
- Setor Minyak: Bawa minyak jelantah yang sudah dikemas rapi.
- Pencatatan Buku Tabungan: Petugas akan menimbang dan mencatat nilai rupiahnya di buku tabungan sampah Anda. Saldo ini bisa dicairkan secara berkala (misal: menjelang Lebaran atau akhir tahun).
Metode 3: Program “Green Energy Station” (GES) atau Event Tertentu
Di beberapa SPBU Pertamina yang berkonsep Green Energy Station, terkadang tersedia drop box atau fasilitas penerimaan minyak jelantah pada event tertentu.
- Pantau Info Pertamina: Cek sosial media Pertamina untuk mengetahui event penukaran jelantah.
- Bawa ke Lokasi: Bawa minyak jelantah ke booth yang tersedia di SPBU tertentu.
- Sistem Barter: Biasanya, metode ini menggunakan sistem barter langsung. Contoh: Tukar 5 liter jelantah dengan 1 liter minyak goreng baru atau merchandise Pertamina.
Langkah Persiapan: Cara Mengemas Minyak Jelantah yang Benar
Agar minyak jelantah Anda diterima dengan harga maksimal dan tidak ditolak saat penjemputan, ikuti langkah persiapan berikut:
1. Dinginkan Minyak
Jangan pernah menuang minyak panas ke dalam wadah plastik. Tunggu hingga suhu minyak benar-benar dingin (suhu ruang) untuk mencegah wadah meleleh dan meminimalisir risiko kecelakaan luka bakar.
2. Proses Penyaringan (Filtering)
Siapkan saringan halus atau kain saring. Tuang minyak perlahan untuk memisahkan cairan minyak dari remah-remah sisa gorengan (tepung, bawang gosong, tulang kecil). Minyak yang bersih memiliki nilai jual lebih tinggi.
3. Pemilihan Wadah
Gunakan jerigen bekas minyak goreng atau botol air mineral bekas yang bersih dan kering.
- Tips: Jangan gunakan wadah kaca karena berisiko pecah saat proses pengangkutan.
- Labeling: Jika Anda mengumpulkan dalam jumlah banyak, beri label tanggal pengumpulan untuk memantau durasi penyimpanan.
4. Penyimpanan
Simpan wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung. Sinar matahari dapat mempercepat oksidasi yang merusak kualitas asam lemak dalam minyak.
Peluang Bisnis: Menjadi Pengepul Minyak Jelantah
Selain sebagai penjual skala rumah tangga, Anda juga bisa melihat ini sebagai peluang bisnis dengan menjadi mitra pengepul (collector).
- Cara Kerja: Anda mengumpulkan minyak dari tetangga, warung makan pecel lele, atau pedagang gorengan di sekitar Anda.
- Keuntungan: Anda membeli dengan harga “bawah” dari tetangga (misal Rp 3.000/liter), lalu menjualnya dalam partai besar (drum) ke vendor mitra Pertamina dengan harga industri (misal Rp 7.000 – Rp 9.000/liter).
- Syarat: Membutuhkan modal untuk transportasi (mobil bak terbuka) dan gudang penyimpanan sementara yang aman dari risiko kebakaran.
Kesimpulan
Menjual minyak jelantah ke Pertamina atau mitra resminya adalah langkah cerdas yang memberikan manfaat ganda (double impact). Di satu sisi, Anda mendapatkan keuntungan ekonomis dari limbah yang biasanya dibuang.
Di sisi lain, Anda berkontribusi nyata dalam menyelamatkan lingkungan dari pencemaran dan mendukung ketahanan energi nasional melalui produksi Biodiesel.
Kunci utama dalam cara jual minyak jelantah ke Pertamina adalah memastikan kualitas minyak yang Anda kumpulkan bersih dari air dan ampas, serta menemukan saluran penjualan (aplikasi atau Bank Sampah).
Paling mudah diakses di wilayah Anda. Jangan biarkan “emas cair” ini terbuang percuma di wastafel Anda. Mulailah mengumpulkan, saring, dan tukarkan menjadi cuan sekarang juga!
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Jual Minyak Jelantah
Berikut adalah jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan masyarakat terkait penjualan minyak jelantah:
Q: Apakah ada minimal jumlah liter untuk menjual minyak jelantah?
A: Jika melalui aplikasi penjemputan, biasanya ada minimal volume (sekitar 5-10 liter) agar biaya operasional kurir tertutup. Namun, jika Anda mengantar sendiri ke Bank Sampah, biasanya 1 botol (1 liter) pun tetap diterima.
Q: Apakah minyak jelantah yang sudah hitam pekat masih laku?
A: Umumnya masih laku, asalkan cair dan tidak menggumpal. Namun, harganya mungkin sedikit di bawah minyak jelantah yang warnanya masih kecokelatan (grade A).
Q: Apakah saya bisa langsung menjual ke SPBU Pertamina terdekat?
A: Tidak semua SPBU menerima. Hanya SPBU tertentu dengan program Green Energy Station atau saat ada event khusus yang menerima penukaran. Sebaiknya gunakan aplikasi mitra atau Bank Sampah binaan untuk kepastian transaksi rutin.
Q: Apakah minyak jelantah ini akan diolah jadi minyak goreng curah lagi?
A: Tidak. Jika Anda menjual ke mitra resmi Pertamina atau perusahaan biodiesel berizin, minyak tersebut akan diolah menjadi bahan bakar (Biodiesel/FAME), bukan untuk pangan. Ini lebih aman daripada menjual ke pengepul liar yang tidak jelas peruntukannya.
Q: Berapa lama saya bisa menyimpan minyak jelantah sebelum dijual?
A: Sebaiknya tidak lebih dari 1-2 bulan. Penyimpanan terlalu lama dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas (FFA) dan bau tengik yang sangat menyengat, yang mungkin menurunkan kualitas di mata pembeli industri.
Disclaimer: Informasi mengenai harga dan program kemitraan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan PT Pertamina (Persero) dan kondisi pasar CPO global. Pastikan untuk memverifikasi melalui aplikasi atau Bank Sampah setempat.